Technology
Beranda Ā» Berita Ā» Minat terhadap Metaverse Menurun, Apakah Konsep Ini Gagal Total?

Minat terhadap Metaverse Menurun, Apakah Konsep Ini Gagal Total?

Selain itu, banyak startup dan platform mencoba menjual visi metaverse tanpa menghadirkan pengalaman yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna. Alhasil, terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan.

Aplikasi yang Masih Relevan

Meski minat publik terhadap metaverse menurun, bukan berarti konsepnya benar-benar ditinggalkan. Beberapa aplikasi justru mulai menemukan bentuknya:

  • Industri pelatihan dan pendidikan: Penggunaan VR untuk pelatihan teknis, medis, dan simulasi kerja masih terus berkembang.
  • Event virtual dan hiburan: Konser digital dan pertemuan virtual skala besar tetap diminati, terutama pascapandemi.
  • Kolaborasi dan kerja jarak jauh: Tools seperti Microsoft Mesh dan Horizon Workrooms menunjukkan potensi untuk kolaborasi kerja imersif.

Dengan kata lain, metaverse mungkin gagal sebagai ā€œproduk massal instanā€, tapi tetap relevan dalam aplikasi spesifik dan industri vertikal tertentu.

Kompetitor Konsep: AI dan Realitas Campuran

Bersamaan dengan meredupnya hype metaverse, teknologi AI — khususnya AI generatif seperti ChatGPT — justru mengalami lonjakan adopsi yang luar biasa. AI dianggap lebih aplikatif, murah, dan langsung berdampak pada produktivitas.

Selain itu, konsep augmented reality (AR) dan mixed reality (MR) yang lebih ringan dan terintegrasi dengan dunia nyata kini mulai menggantikan posisi metaverse sebagai ā€œmasa depan interaksi digitalā€. Apple Vision Pro, misalnya, membawa pendekatan yang lebih realistis dibanding dunia virtual penuh ala metaverse.

Profesi Programmer di Tengah Kecanggihan AI, Apakah Masih Aman?

Kesimpulan: Gagal atau Masih Berproses?

Metaverse saat ini mungkin tidak lagi menjadi bintang utama dunia teknologi seperti dua tahun lalu. Namun, menyebutnya gagal total juga terlalu dini dan tidak sepenuhnya tepat.

Sebaliknya, metaverse sedang mengalami proses pembentukan kembali — dari sebuah hype ke bentuk aplikasi nyata yang lebih relevan dan berjangka panjang. Tantangan teknis, adopsi pengguna, hingga kesiapan infrastruktur harus ditangani terlebih dahulu sebelum metaverse benar-benar menjadi bagian dari keseharian.

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ɨ Advertisement